PENGGALAN lirik lagu madu ditangan kananmu, racun ditangan kirimu bisa dibilang realita. Racun akan membunuh, sedangkan madu akan menyehatkan. Secara tak langsung cairan yang dihasilkan lebah ini memang baik bagi tubuh. Penuh nutrisi, bahkan obat penyembuh dari berbagai penyakit. Bukan hanya khasiatnya saja yang beragam, namun jenis madu juga beragam.
Jenis-jenis madu ditentukan berdasarkan sumber bunga atau tanaman habitat tempat tinggal si lebah. Seperti madu campuran, madu monoflora, madu multiflora, madu hutan, dan madu ternak.
Begitu juga dengan orang yang berwirausaha madu tidak sembarang. Namun paling tidak memiliki pengetahuan terkait produk yang akan dijajakan. Seperti Anal Fikri Aristo. Sebagai mahasiswa, Fikri begitu ia disapa cukup jeli melihat peluang usaha.
Sejak dua tahun lalu, ia mencoba menjajakan madu hutan Sekotong. Madu yang dikemas dengan brand Afa Madu kini banyak dikenal orang. Rasanya beda dengan madu lainnya. “Rasa madu beda dengan madu di toko atau yang lainnya. Bisa dibuktikan,” kata Fikri.
Menjual madu sudah dilakoni Fikri sejak dua tahun lalu. Sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Kota Mataram Fikri banyak memiliki kerabat. Ia banyak mencoba madu, baik yang dijajakan di toko maupun yang dibawa temennya dari luar daerah. Namun tidak pernah menemukan madu hutan yang dijualnya hingga kini. “Pokoknya rasanya beda. Bisa dibuktikan apakah dicampur atau tidak,” sebut mahasiswa semester delapan ini.
Dalam usaha ia juga mengedepankan kreativitas. Madu hutan Sekotong yang dibeli menggunakan jeriken dikemas dalam botol. Yakni, isi 460 milimeter dijual Rp 150 ribu. Sedangkan isi 150 milimeter dibanderol Rp 60 ribu. “Tutup segel aluminium kita gunakan agar tidak tumpah,” terang Fikri.
Awalnya, Fikri berjualan madu hanya untuk menambah uang jajan. Namun lama kelamaan ia menekuni bisnis ini. Bahkan hingga kini ia memiliki karyawan untuk menjajakan madu kemasannya. Dalam satu bulan kata dia, tercatat 20 botol madu dengan  isi 460 milimeter laku terjual. “Tapi tidak tentu. Kadang sepuluh botol,” ujar pria yang kini lagi menyusun skripsi ini.
Lantaran harus membagi waktu. Kapan harus mengemas dan kapan ia kuliah maka saat-saat ini ia kurang fokus. Ia tidak seperti pengusaha lainnya yang bisa menitipkan madu di sejumlah pusat oleh-oleh di Kota Mataram.  Karena terbentur kuliah. Namun begitu dengan berjulalan secara online di media sosial ia banyak memiliki pelanggan. Bahkan sampai keluar daerah. “Banyak juga dipesan pejabat,”aku pria dua bersaudara ini.
Menjual madu Lombok karena banyak yang mencari. Bahkan ia melihat orang menjual madu dengan harga murah. Namun tidak asli alias dicampur. “Dari sana saya ingin menjual madu murni,” ujar pira asal Sapit, Kecamatan Suela, Lotim ini.
Jika ingin melihat madu asli atau tidak maka bisa ditumpah di dalam gelas bersama air. Jika asli maka madu tidak akan bercampur dengan air kecuali diaduk. “Madu asli juga tidak bisa beku ditaruh di dalam kulkas,” ujar pra yang kini tinggal di Dasan Agung, Kota Mataram ini.(r5/*)
Label:

Posting Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.